RSS

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya

11 Agu

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya itu adalah sebuah ungkapan atau peribahasa yang menunjukkan bahwa pribadi seorang anak tidak jauh berbeda dengan orang tuanya. Hal ini dikarenakan karakter pada anak dibentuk oleh orang tua dan didukung dengan lingkungan di mana dia dibesarkan. Pada dasarnya seorang anak yang baru lahir tidak memiliki program apapun dan orang tua lah yang akan mengisi program pada anak tersebut. Program yang dimasukkan pada anak oleh orang tua akan menentukan karakter anak yang terbentuk. Orang tua harus memberikan kasih sayang, perhatian dan pola asuh didik yang benar pada seorang anak sesibuk apapun. Jika orang tua lalai, maka anak akan mengisi programnya dengan didikan dari orang lain seperti dari pembantu rumah tangga atau baby sister. Sebenarnya tingkah laku anak adalah sebuah hasil tiruan dari apa yang dia lihat dan rasakan. Oleh karena itu peran ayah dan ibu dalam mendidik anak harus benar dan memperhatikan kondisi lingkungan ia tumbuh.

masa pertumbuhan anak

Menurut praktisi pendidikan Edy Wiyono terdapat enam fase pada anak yang harus diperhatikan dalam masa pembentukan karakternya, yaitu masa balita, masa TK, masa SD,masa SMP, masa SMA hingga kuliah. Pendidikan yang benar akan membentuk karakter yang positif yang diperlukan oleh seorang anak dalam menghadapi persaingan global saat ini. Pendidikan disini bukan berarti hanya pendidikan akademik saja tetapi pendidikan non akademik, seperti agama, pendidikan tentang kejujuran,keberanian, disipli dll. Pendidikan non akademik sama pentingnya, malah pendidikan non akademiklah yang harus pertama kali ditanamkan pada seorang anak yang telah dapat berinteraksi dengan lingkungannya. Pendidikan tentang kejujuran digunakan agar anak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tetapi orang tua jangan hanya mengajarkan dari kata-kata atau ucapan saja, orang tua juga harus mencontohkan pada seorang anak dengan tingkah laku. Anak lebih cepat mempelajari yang dia lihat daripada yang dia dengar.

Pola asuh dalam mendidik anak juga jangan memakai kekerasan, teriakan, bentakan, tau penuh larangan. Hal ini akan membentuk pribadi anak yang mudah takut dalam melakukan sesuatu karena otak dia sudah terprogram ketakutan akan dimarahi jika melakukan itu. Sikap ini akan terbawa hingga dewasa nanti jika pola pendidikan seperti itu berlangsung sejak lama. Anak-anak akan lebih mudah mengingat kenangan yang buruk dibandingkan kenangan yang indah pada saat masih balita. Contohnya saja ia selalu ingat sampai dewasa pada waktu kecil ia pernah dipukul pakai pedang plastik di pantatnya atau selalu kena cubitan kalau tidak bisa mengerjakan pekerjaan sekolah dengan baik. Hal ini tentu saja akan mempngaruhi karakter yang akan terbentuk.

Ayah dan ibu biasanya menjadi panutan dalam kehidupan seorang anak. Banyak sekali anak yang kelak dewasa nanti ingin menjadi seperti ayahnya atau ibunya atau tidak dua-duanya. Hal itu tergantung proses pendidikan orang tua terhadap anak. Biasanya orang tua ingin anaknya lebih dari dirinya. Orang tua akan mengucapkan hal yang sama yang ia inginkan pada anak tersebut sehingga akan mempengaruhi pola pikir anak. Contohnya saja, orang tuannya ingin anaknya menjadi wiraswasta maka ia berkali-kali berbicara pada anaknya tentang betapa bagusnya menjadi wiraswasta sehingga akan mempengaruhi pola pikir anak bahwa dia harus menjadi wiraswasta.

Ambisi orang tua yang berlebihan berpengaruh terhadap pemaksaan kehendak yang seringkali membawa masalah dalam pola asuh, komunikasi, serta hubungan orang tua dan anak di fase-fase berikutnya. Tidak sedikit anak yang mengalami stress, frustasi bahkan depresi karena merasa gagal, tidak mampu memenuhi keinginan orang tua, sehingga mereka banyak yang merasa menjadi “korban” ambisi orang tua, objek idealisme yang kurang realistis, bahkan menjadi target sebuah kepentingan. Hal ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan kepribadiannya. Bisa saja ia akan menjadi pribadi yang kurang percaya diri, pesimis, takut salah, tidak berani mengambil keputusan.

Untuk itu sebagai orang tua harus berhati-hati dalam menerapkan pendidikan anak pada usia dini, karena itu akan menjadi karakter dasar bagi anak dan akan terus berkembang dengan apa yang ia dapatkan dari melihat, mendengar, dan merasakan. Pola asuh pendidikan yang salah dapat membentuk karakter negatif pada anak yang akan berpengaruh pada masa depannya.

sumber :http://niahidayati.net dan http://beranda.blogsome

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 11, 2011 in Uncategorized

 

3 responses to “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya

  1. nanda

    Mei 31, 2013 at 1:32 pm

    gag tau

    Suka

     
  2. udin

    Desember 4, 2013 at 12:58 am

    istri saya protektif, mendidik anak dengan bentakan, teriakan bahkan cubitan plus pukulan. gima cara mengatasinya

    Suka

     
    • RUANG BEBAS

      Desember 13, 2013 at 4:39 am

      sebelumnya saya terima kasih pak udin sudah membaca blog saya, semoga bermanfaat. Tulisan di atas adalah pengalaman saya sendiri. saya juga mempunyai seorang teman yang didikan saat masa kecil seperti istri bapak. dan ia berkata ia tumbuh menjadi seorang anak yg gampang pendendam dan sensitif.

      jadi saya hanya bisa menyarankan, agar bapak sebagai kepala keluarga dan suami memberi penjelasan secara baik-baik kepada istri bapak bagaimana seharusnya dia mendidik anak. diberi pengertian secara perlahan-lahan pak, jangan frontal.

      klo istri bapak pny orang yang paling bisa mempengaruhi dia, seperti orang tuanya atau sahabatnya bisa melewati mereka…..

      Suka

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: