RSS

Pertemuan

08 Jul

Semua anak-anak pasti semangat menghadapi sekolah barunya masing-masing, begitupula dengan Aim. Dia sangat bersemangat sekali untuk masuk ke sekolah barunya. Akhirnya aku bisa bersekolah di sekolah umum, gumam Aim di dalam hatinya. Semenjak ia SD sampai SMP, Aim selalu bersekolah di pesantren. Bersekolah di pesantren bukanlah kehendak ia sendiri, tetapi melainkan kehendak orang tuanya. Aim sebagai anak berbakti pada orang tua tentu harus menuruti apa kata orang tua. Kini saat ia masuk SMA, orangtuanya memperbolehkan Aim untuk bersekolah di sekolah umum karena orang tuanya sudah merasa anaknya memiliki bekal agama yang cukup untuk menghadapi godaan dan kejahatan yang ada di dunia.

Semua peralatan sekolah sudah ia siapkan dari semalam. Baju seragam yang baru, sepatu baru, tas baru, dan buku baru. Semalam sebelum hari pertama sekolah Aim mondar-mandir dari ruang keluarga ke kamarnya untuk mengecek peralatan sekolahnya untuk Masa Orientasi Siswa (MOS) sudah lengkap atau belum. Aim pun berulang kali menanyakan hal-hal yang tidak penting kepada kakaknya, Elina yang sudah terlebih dahulu merasakan SMA. Elina kesal melihat kelakuan adiknya dan membentak Aim untuk diam, karena kelakuannya sangat mengganggu dirinya yang sedang menonton tv. Aim pergi dari hadapan kakaknya dan menghampiri ibunya yang sedang menonton tv juga dan dia kembali menanyakan bagaimana teman-teman di SMA, bagaimana rasanya upacara, bagaimana rasanya di MOS, Apakah kakak kelasnya galak-galak, dan berbagai hal yang membuatnya cemas. Ibunya menjawab dengan sabar, sayang, dan menangkan Aim bahwa besok semuanya akan baik-baik saja, berbeda dengan Elina yang tidak sabaran menghadapi tingkah adiknya. Elina mengganggap adiknya sepertinya mempunyai penyakit yang belum terdeteksi karena umur Aim sudah 15 tahun tetapi tingkah lakunya seperti anak SD. Anak SD saja masih lebih dewasa dibandingkan dengan dirinya.

Aim berpikir bahwa dia tidak boleh tidur agar tidak kesiangan. Aim punya penyakit untuk susah bangun pagi. Selama di pesantren pembimbing asramanya selalu membangunkan dia dengan menggotong Aim ke kamar mandi dan langsung mengguyur Aim. Untung saja badan Aim cukup kecil dan badan pembimbingnya cukup besar sehingga pembimbingnya tidak merasa kesulitan untuk menggotong Aim. Ayah dan ibunya tentu saja memarahi Aim dan menyuruhnya tidur cepat daripada berpikir tidak tidur. Ayahnya pun berjanji akan melakukan apa saja untuk membangunkan Aim. Aim pun setuju dan beranjak pergi tidur. Elina berpikir lagi, adiknya tidak hanya punya penyakit aneh tetapi juga bodoh. Kasian sekali, gumam Elina sambil melihat sosok adinya yang mulai pergi meninggalkan ruang tengah.

Keesokan harinya terjadi keributan besar, orang-orang satu rumah pada kesiangan. Orang yang paling mengomel atas tragedy ini adalah Aim dan orang yang paling nyantai adalah Elina karena kuliah masih libur. Elina malah kembali tidur setalah dibangunkan oleh teriakan Aim yang melihat jam sudah menunjukkan waktu 06.30 wib. Aim hanya mencuci mukanya dan gosok gigi, karena apabila mandi bias-bisa baru kelar mandi jam 7 pagi. Akhirnya Aim siapa jam 06.45 wib dan kecepatan penuh, ayah Aim mengantarkan ke sekolah. Sepanjang perjalanan Aim terus menyalahkan semua orang mengenai tragedy. Ayah Aim sudah mengetahui hal ini bakal terjadi, sehingga sebelum berangkat dia sudah menyumpalkan telinganya pake penyumpal telinga. Suara omelan Aim hanya terdengar seperti gumaman dan ayahnya hanya mengiyakan saja.

Aim bersekolah di salah satu sekolah favorite di kotanya yaitu SMA Nusantara. Aim bias dibilang anak yang berprestasi di pesantrennya terdahulu, sehingga saat tes masuk sekolah ini dia begitu mudah untuk lolos. Sekolah SMA Nusantara memiliki 9 kelas tiap angkatan dan memiliki fasilitas yang lengkap mulai dari lab computer, biologi, kimia, fisika serta bahasa. Lapangan utama di sekolah ini ada satu untuk acara-acara seperti upacara dan pensi, sedangkan lapangan untuk olahraga ada di belakang. SMA Nusantara berbentu persegi panjang tetapi yang dibagi menjadi dua oleh sekat yaitu ruang guru sehingga jika dilihat dari atas tampak ada satu persegi panjang dan satu kotak. Di Area depan tempatnya laboratorium, perpustakaan, dan mushola. Ruang guru terletak memanjang ditengah-tengah memisahkan lapangan utama dengan lapangan olahraga. Ruang guru ini full kaca sehingga setiap guru bias memantau kondisi di luar baik di area depan maupun di area belakang. Di area belakang terdapat lapangan basket dan bulu tangkis. Di area belakang juga terdapat aula khusus untuk olahraga futsal, karate dan tenis meja. Di area belakang berisi semua kelas setiap angkatan dan kantin.

Setiba di sekolah, ia terlambat lima menit. Kalau hari biasa sih terlambat lima menit masih bias ditolerir tapi ini adalah hari pertama masuk sekolah di tahun ajaran baru. Tentu saja ada MOS dan Aim terkena hukuman setelah upacara penerimaan siswa berakhir. Akhirnya dia disuruh push up 10 kali ditambah dengan omelan-omelan kakak kelasnya yang super judes dan galak. Meskipun Aim termasuk anak yang sangat manja melebihi manja anak perempuan tapi untuk masalah dibentak-bentak dan dihukum ia sudah kebal. Ia sudah terbiasa seperti ini karena saat di pesantren ia hampir selalu kena hukuman gara-gara tidak hapal surat atau melakukan kesalahan. Jadi menurut dia, ini sih belum apa-apa.

Setelah hukuman selesai, ia diperbolehkan untuk kembali ke dalam kelas, tapi ia sudah dapat daftar kesalahan pertamanya. Kalau Aim mendapatkan tiga kesalahan dalam satu hari maka ia harus bernyanyi dan menari di tengah-tengah lapangan. Itulah hukuman setiap anak yang mendapat pelanggaran sebanyak tiga kali dalam satu hari. Di kelas diharuskan duduknya cewek dengan cowok tidak boleh satu jenis kelamin. Aim tidak tahu apakah hari ini adalah hari keberuntungan dia atau hari sial dia. Aim mendapatkan teman duduk yang sangat cantik. Cewek ini sepertinya keturunan indo, soalnya kulitnya putih mulus dan warna bola matanya coklat. Rambutnya juga agak kecoklatan, tidak hitam seperti kebanyakan orang Indonesia asli.
“Hai” sapa Aim. Cewek itu melihat sekilas kea rah Aim setelah itu kembali focus ke depan. “Nama kamu siapa?” Tanya Aim.
“Kathrine” jawab cewek itu singkat.
“Aku Aim. Kok kamu jutek gitu sih sama aku?” Tanya aim langsung tanpa basa-basi.
Cewek itu melihat tidak percaya bahwa sudah ada orang yang bertanya seperti itu. Pertanyaan Aim seolah-olah seperti ada orang yang mengajak dia untuk mati bareng. Pikiran Katherine memang sedikit lebay sih. “Aku nggak suka duduk deket kamu. Aku paling nggak suka duduk dengan cowok. Aku Cuma terpaksa doank duduk sama kamu selama MOS. Jadi jangan ganggu aku.” Jawab Katherine ketus. Hati Aim berkata, sayang sekali wajahnya cantik tapi kok sepertinya hatinya tidak secantik dirinya. Sepertinya anak ini agak sedikit angkuh.
“ Apa katamu?” Tanya Katherine.
“Tidak. Aku nggak bilang apa-apa kok” jawab Aim dengan gugup. Jangan-jangan cewek ini bias membaca pikiran orang lagi. Aku harus hati-hati dengan orang ini, pikir Aim.
Pengecekan tugas dan barang-barang yang harus dibawa oleh keamanan pun dimulai. Keamanan yang masuk ke kelas Aim berjumlah lima orang. Tiga laki-laki dan dua perempuan. Orang yang badannya paling tinggi, tegap, berwibawa dan punya charisma tersendiri merupakan ketua keamanan, Muklis. Yang lainnya hanya bermodalkan tampang seram. Semua anak harus mengeluarkan barang-barang yang dibawa di dalam tas dalam hitungan 10. Semua anak dalam kelas buru-buru mengeluarkan semua isi tas mereka, karena mereka tidak mau kalau harus jadi bahan omelan kakak keamanan. Ketua keamanan, Muklis berdiri di depan dan membacakan daftar tugas serta barang yang wajib dibawa. Sementara anak buanhya mengecek setiap anak apakah barang yang dimaksuda sudah dibawa atau belum. Meskipun sudah membawa barang yang dimaksud tetep saja keamanan akan mencari kesalahan tiap murid dan akan membentak mereka dekat sekali dengan telinga, sehingga bias-bisa pulang dari sini setiap murid harus antri di dokter THT untuk mengecek apakah telinga mereka masih baik-baik saja atau sudah mengalami kerusakan.

Saat pengecekkan dalam kelas, Aim selamat karena tugas-tugas yang harus dibawa sudah dipersiapkan sejak tadi malam dan semuanya lengkap. Tapi tidak dengan Kathrine dia lupa membawa sedotan berwarna merah dan putih. Kathrine menyadarinya sejak pertama setelah mengeluarkan barang dan melihat barang yang ada di Aim tapi tidak ada di Katherine. Katherine gelisah dan merasa ketakutan. Katherine tidak terbiasa dengan bentakan seperti ini karena selama hidupnya dia tidak pernah dibentak. Ia mencoba melihat ke arah Aim untuk meminta pertolongan, tetapi Aim tidak merasa kalau dirinya sedang dilihat oleh Katherine. Aim tetap focus ke depan meliha kakak keamanan mengecek satiap barang anak-anak. Aim dan Katherine mendapat pengecekan paling akhir karena mereka mendapat tempat duduk paling belakang.
Tiba pengecekan barang sedotan, hati Katherine berdegup dengan kencang. Dia sudah pasrah menerima omelan-omelan dari kakak keamanan dan betul saja ketika keamaanan berda di meja mereka berdua, keamanan langsung berkoar-koar bagai singa yang sedang marah. Katherine hampir menangis karena mendengar bentakan keamanan. Akhirnya Katherine tidak bias menahan air matanya lalu terjatuh lah air matanya. Tentu hal ini menjadi objek penderitaan bagi kakak keamanan langsung saja semua keamanan yang ada di kelas itu mengerumuni Katherine dan berteriak tumpang tindih.

“MANJA KAMU DEK! CENGENG! GTU AJA NANGIS! NGGAK PERNAH DIBENTAK YA?” teriak salah satu kakak keamanan cowok yang paling besar tubuhnya. Aim pun melirik kea rah Katherine yang sedang dihabisi oleh lima orang keamanan.
“Apa kamu lihat-lihat? Kamu mau juga seperti temanmu ini?” teriak salah satu keamanan cewek yang paling cempreng suaranya yang menangkap basah mata Aim yang sedang melirik ke arah mereka. Aim kembali focus lagi ke depan. Setelah para keamanan puas membentak-bentak Katherine. Mereka lalu keluar dari kelas. Katherine langsung terduduk lemas. Sambil mengusap sisa-sisa air matanya. Semua mata nak di kelas saat itu tertuju pada Katherine. Mereka melihat iba tapi tidaki bias berbuat apa-apa.
Lalu tiba-tiba Khatherine langsung melihat ke arh Aim dengan tatapan mata yang tajam. Di mata Katherine penuh kebencian terhadap Aim. Aim yang ditatap seperti itu merasa bingung, apa salahku, gumam Aim.
“kamu dasarcowok pengecut” tiba-tiba Katherine berkata.
Aim masih bingung mendengar kata-kata Katherine. Kenapa dia marah padaku.
“Harusnya tuh kamu tadi menolong aku. Sebagai cowok yang jantan seharusnya dari awal kamu sadar kalau aku luapa bawa sedotan. Harusnya kamu tuh memberikan punyamu kepada aku. Harusnya kamu sebagai cowok melindungi cewek.” Omel Katherine.
“Kamu tidak bilang sih”
“Aku sudah kasih isyarat ke kamu, tapi kamunya aja yang nggak peka. Sekarang kamu senang kan aku dimarahi habis-habisan sama keamanan?”
“Itu kan salah kamu sendiri. Siapa suruh kamu sampai menangis seperti itu? Sudah tahu kalau kamu menangis mereka bakal menjadi-jadi.” bela Aim. Ia tidak rela kalau dirinya dipersalahkan oleh Katherine.
“Aaaarrrgggghhhh, dasar cowok nggak peka. Aku benci sama kamu. “ marah Katherine dan langsung saja Katherine membuang muka dan menjaga jarak dengan Aim.
Aku kira ini duduk sebangku dengan cewek cantik adalah hadiah dari Tuhan setelah aku kena hukuman tadi pagi. Ternyata ini musibah yang Tuhan berikan hari ini padaku. Ya Tuhan, aku ingin cepat MOS ini berakhir sehingga aku tidak sebangku dengan dia lagi dan mudah-mudahan malah tidak sekelas lagi, doa Aim di dalam hati. Kelas ini memang belum kelas tetap karena setelah MOS da kemungkinan kelasnya bakal diubah lagi. Pertemuan pertama yang tidak menyenangkan.

to be continue..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 8, 2011 in Uncategorized

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: